Archive for August, 2007

Berduka Dalam Tenang

Sunday, August 26th, 2007

Duka ini, Adalah duka yang tenang: Sepenuh kesungguhan aku menutup sepenggal episode kebersamaan Sepenuh kesadaran aku bangun dari sebuah mimpi kehidupan Sepenuh jiwa aku menguburnya dalam kenangan masa silam Sepenuh keyakinan aku mengantarnya pergi dari jalan panjang hidupku ke depan Aku berduka,dengan duka yang tenang: Atas keyakinan, kehilangan ini adalah wajar adanya Atas kepastian, proses hidup memang demikian jalannya Atas kepercayaan,esok kan datang yang baru :Aku berduka dalam tenang

Cintanya hanya Satu

Thursday, August 16th, 2007

Wanita hanya mempunyai satu cinta.

Dan cinta itu diberikan kepada suami yang sudah menjadi pilihannya.

Cinta wanita adalah “monoloyalitas”.

Satu cintanya untuk suami. Sekali hidup bersama suami, selamanya dia loyal kepada suami.

Sungguh betapa hebatnya kesetiaan seorang istri. Istri yang shalehah, dialah yang memberi semangat di waktu suami tidak bisa berbuat apa-apa, dialah yang memberikan dorongan maju saat suami hampir putus asa, dia rela berlapar-lapar saat suami tidak memberikan uang, dia rela membuang malu untuk mencari pinjaman atau hutang di warung saat suami menganggur.

Padahal kalau mau, istri bisa menuntut cerai karena tidak terpenuhi kebutuhannya, tetapi demi cintanya kepada suami, dia tetap tegar dan akan terus hidup sehidup dan semati bersama suami, mensyukuri apa yang diberikan oleh suami.

Begitulah kekuatan cinta seorang istri.

Sayang.. tidak semua suami ingat masa-masa penderitaan sang istri. Tidak semua suami menghargai pengorbanan istri.

Sekian puluh tahun hidup bersama istri dalam penderitaan, dalam suka dan duka, dilalui dengan penuh kesabaran dan kedamaian.

Tetapi ketika kini kehidupannya sudah berubah, perekonomian sudah berubah, posisi dalam masyarakat sudah berubah, popularitas makin tinggi, ternyata suami lupa pada masa-masa yang lalu.

Istri yang seharusnya mendapatkan penghargaan karena kesetiannya menjadi pendamping suami dan mengasuh anak-anak, tidak jarang justru disakiti hatinya.

Bukan pernyataan sumpah setia sehidup semati berdua yang dikatakan, melainkan keinginan “poligami” yang disampaikan, dengan berbagai alasan bahkan menuduhkan penyebabnya adalah istrinya itu sendiri.

Pertemuan itu

Sunday, August 5th, 2007

Tiba saatnya kembali ke jakarta.
Entah kenapa Fadel kali ini merasa akan merindukan kota ini. (Atau gadisnya?)
Sejak pertemuan dan perkenalannya dengan Laras, dia merasa tidak bisa menghapus bayang-bayang gadis itu dari benaknya.
Cara dia bertutur kata dan berjalan begitu halus dan teratur.
Rasanya dia tidak pernah menemukan sosok wanita yang seperti itu di jakarta.

Yah.. akhirnya dia berkenalan dengan gadis itu.. gadis manis penari tarian Jawa.
Seorang penari yang kuat hatinya, dan baik hatinya.
TIdak tega rasanya Fadel jika harus melihat tarian Laras bisa dinikmati oleh banyak orang yang notabene termasuk pria juga.
Rasanya ia hanya ingin menikmati tarian itu untuk dirinya sendiri.
Tapi Fadel bimbang.. bagaimana bisa ? Dia bukanlah apa-apa.
"Gue termasuk salah satu penggemarnya dia saja. Gue rasa, Laras ga suka juga ma gue." Gumamnya lesu sambil memandangi foto-foto gadis itu dalam berbagai pose yang sengaja diambilnya diam-diam.

Tiba di Jakarta.
"First Day in Jakarta again…" Gumam Fadel sambil menggigit roti sandwich nya
"Halo Bos! Gimana kabar solo? Katanya seneng ya disana." Sapa Akbar yang ditemuinya di lift.
"Biasa aja" Jawab Fadel sekenanya.
Bisa gawat kalo sampe Akbar tau tentang Laras. Gue bisa mati bediri di ledekin di depan bawahan gue lainnya.

Detik demi detik berlalu, jam demi jam terlewati.
AKhirnya tiba saatnya untuk pulang.
Tapi Fadel masih termenung di ruangannya sambil terus memandangi kamera digtal dan handphone nya yang hampir semuanya terisi dengan gambar gadis penari itu.
Pikirannya kembali melayang pada saat-saat dia melewati hari-hari di solo ditemani gadis itu, hingga tanpa sadar Akbar sudah membayanginya di belakang kursinya.

"EHem.. Poling IN LOp nih Bosss?"
Fadel tersentak. Hampir saja kamera mahalnya itu jatuh saking kagetnya.
"Astaghfirullah. Kamu ngapain disini? Kenapa belum pulang? SEjak kapan kamu disini?"
Yang ditanya hanya mesem-mesem saja dan mengambil kursi didepan meja bos nya.

"Gue bilang juga apa, Del!!DAh saat nya elu tuh membuka hati lagi untuk wanita lain. Dah lupain deh tuh si GIta. DIa udah bahagia ma suami n anaknya disana."
"Apaan sih loe?? LAras tuh cuma penari di hotel waktu itu. Karena tariannya bagus, makanya gue poto gitu!" Belanya.
"Ohh.. Jadi namanya LAras… Trus gimana, bos?? Dia ada respon positip ga ke elu? Dah samber ajaaa.. nanti keburu disamber oranggg" Goda AKbar.
"Gila loe! Loe tuh ngomong sembarangan, Gimanapun juga, gue tuh bos eluuuu!! SOpan dikit loooeeee!!! JAga Imageeeeeeeeeee!!!!" Fadel mulai kelabakan. AKbar hanya bisa tertawa.
"Katanya SLJJ mahallll… abis-abisin waktu, tenaga, pikiran dan segalanyaaaaaa.."
Akbar masih menggoda sambil menghabiskan gorengan yang tadi dibelinya.
"Yeee.. biar SLJJ juga yang penting setia, percaya dan perhatian tauuuu… Malahan lebih bagus SLJJ!! Ga terlalu banyak dosa nya. Ga pegang-pegangan atau apalah itu namanya. seperti yang biasa dilakukan orang pacaran jarak dekat ini!!!"
"Hahahahahahhaa… kalo mau yang lebih menjaga hati lagi… Lu nikahin tuh cewe !"
"Dah gue balik duluan, bossss…" Sela AKbar buru-buru pamit.

Fadel terdiam dan merenung..

Menikah..
Kenapa gue ga terpikirkan akan hal itu?
Tapi kenapa harus sama itu cewe?
Tapi apa gue jatuh cinte ma tu  cewe?
Kok bisa?
Cepet banged?

Ah tau ahhhh.. nanti aja gue pikirin lagi.
Gue belum shalat magribbbbbbbbbbbbbb

Jalan-Jalan Fadel

Thursday, August 2nd, 2007

Aduh.. Jadwal meeting luar kota lagiiiii..

Training lagiiiiiiiii

Cape deeeeeee..

Duuhh kok gue mengeluh melulu sih??

Seharusnya gue seneng dooonggg.. kan bisa jalan-jalan gratis sekaligus rekreasi

Pokoknya harus tetap semangat!!

“Waahh.. jadwal meeting lagi bos? Di solo bos? Ati ati bos.. banyak cewe kraton disono” Selorohan Akbar tampaknya tidak menjadikan Fadel lega, malah membuat dia semakin senyum cabe : kriting!

“Cewe apaan sih Bar? Ada-ada aje luuu.. ngapain gue jatoh cinta di sono? Kaga da untungnyeee… lagian gue masih trauma Bar.. apalagi klo dapet orang sono beneran?? Beuhhh… SLJJ dahhh.. berat di ongkos berat dimana-mana, Barrrr!! Gak mikir luuuuuu..” Jawab Fadel sambil jitak kepala Akbar yang plontos itu.

“Kita lihat saja nanti!” Akbar hanya tersenyum nakal melihat reaksi temannya yang frontal itu.

Rabu, 1 AGustus 2007

Satu Jam menjelang, penerbangan sudah sampai di landasan. Fadel bersiap hanya tinggal menunggu jemputan yang akan memanggilnya dari pusat informasi bandara.

Dan akhirnya berangkat juga Fadel ke Kota Batik itu.

Dengan sarana pra sarana dari kantor, Fadel hanya tinggal membawa pakaian luar dalam beserta cs nya karena semua akomodasi dan transportasi sudah pasti disediakan oleh perusahaannya (first class pula).

Setengah jam berlalu, akhirnya sampai sudah Fadel di Lor Inn, salah satu hotel terbesar di solo.

Rencananya setelah bebenah dan mandi, dia akan jalan-jalan sebentar menikmati sore di kota Solo yang katanya banyak wanita ayu nya itu.

Fadel nyengir kuda mengingat ledekan temannya kemarin. “Ga mungkin gue ketemu cewe yang selevel ma gue disini. Paling pollll juga model – model lokal sini doing, itu juga mungkin tampang nya pas-pas an”

Tapi Fadel terpukau pada taman yang ada di hotel tersebut.

Fadel menggerakkan kakinya lebih cepat untuk mencapai taman itu. Matanya seperti tertuju pada sesuatu : Penari.

Aahh.. Fadel tidak  tau apa yang digerakkan sang penari

Tapi dia makin terpukau melihat gerakan tari gadis itu.

Begitu gemulai dan lembut…

Tanpa terasa Fadel sudah ikut duduk diantara kursi yang sudah disediakan untuk penonton tersebut.

Yah.. dia hanya bisa terbengong-bengong bahkan sampai musiknya selesai pun dia tetap bengong.

“Dik, maaf. Kami masih persiapan untuk pertunjukkan nanti malam. Kalau Adik tidak keberatan, Adik bisa menyaksikan lagi nanti malam”. Fadel terhentak seketika ketika sebuah tangan besar menepuk pelan pundaknya.

“Eh, iya Pak.. Maaf saya pikir sudah mulai acaranya….tariannya bagus sekali” Fadel mengeluarkan cengiran kuda nya yang khas sambil tengak-tengok mencari penari yang tadi begitu memukaunya.

“Adik mencari siapa?” tanya orang itu lagi

“Anu.. penari tadi kemana ya Pak?” Fadel nyengir lagi.

“Oh.. Laras maksudnya? Mungkin dia sudah kembali ke rumah nya lagi untuk persiapan. Rumahnya dekat sini kok Dik. Biasanya sebelum mentas, dia bantu-bantu simboknya dulu.” Fadel manggut-manggut bagai kerbau disungut.