Cintanya hanya Satu

Wanita hanya mempunyai satu cinta.

Dan cinta itu diberikan kepada suami yang sudah menjadi pilihannya.

Cinta wanita adalah “monoloyalitas”.

Satu cintanya untuk suami. Sekali hidup bersama suami, selamanya dia loyal kepada suami.

Sungguh betapa hebatnya kesetiaan seorang istri. Istri yang shalehah, dialah yang memberi semangat di waktu suami tidak bisa berbuat apa-apa, dialah yang memberikan dorongan maju saat suami hampir putus asa, dia rela berlapar-lapar saat suami tidak memberikan uang, dia rela membuang malu untuk mencari pinjaman atau hutang di warung saat suami menganggur.

Padahal kalau mau, istri bisa menuntut cerai karena tidak terpenuhi kebutuhannya, tetapi demi cintanya kepada suami, dia tetap tegar dan akan terus hidup sehidup dan semati bersama suami, mensyukuri apa yang diberikan oleh suami.

Begitulah kekuatan cinta seorang istri.

Sayang.. tidak semua suami ingat masa-masa penderitaan sang istri. Tidak semua suami menghargai pengorbanan istri.

Sekian puluh tahun hidup bersama istri dalam penderitaan, dalam suka dan duka, dilalui dengan penuh kesabaran dan kedamaian.

Tetapi ketika kini kehidupannya sudah berubah, perekonomian sudah berubah, posisi dalam masyarakat sudah berubah, popularitas makin tinggi, ternyata suami lupa pada masa-masa yang lalu.

Istri yang seharusnya mendapatkan penghargaan karena kesetiannya menjadi pendamping suami dan mengasuh anak-anak, tidak jarang justru disakiti hatinya.

Bukan pernyataan sumpah setia sehidup semati berdua yang dikatakan, melainkan keinginan “poligami” yang disampaikan, dengan berbagai alasan bahkan menuduhkan penyebabnya adalah istrinya itu sendiri.

Leave a Reply