Pertemuan itu
Tiba saatnya kembali ke jakarta.
Entah kenapa Fadel kali ini merasa akan merindukan kota ini. (Atau gadisnya?)
Sejak pertemuan dan perkenalannya dengan Laras, dia merasa tidak bisa menghapus bayang-bayang gadis itu dari benaknya.
Cara dia bertutur kata dan berjalan begitu halus dan teratur.
Rasanya dia tidak pernah menemukan sosok wanita yang seperti itu di jakarta.
Yah.. akhirnya dia berkenalan dengan gadis itu.. gadis manis penari tarian Jawa.
Seorang penari yang kuat hatinya, dan baik hatinya.
TIdak tega rasanya Fadel jika harus melihat tarian Laras bisa dinikmati oleh banyak orang yang notabene termasuk pria juga.
Rasanya ia hanya ingin menikmati tarian itu untuk dirinya sendiri.
Tapi Fadel bimbang.. bagaimana bisa ? Dia bukanlah apa-apa.
"Gue termasuk salah satu penggemarnya dia saja. Gue rasa, Laras ga suka juga ma gue." Gumamnya lesu sambil memandangi foto-foto gadis itu dalam berbagai pose yang sengaja diambilnya diam-diam.
Tiba di Jakarta.
"First Day in Jakarta again…" Gumam Fadel sambil menggigit roti sandwich nya
"Halo Bos! Gimana kabar solo? Katanya seneng ya disana." Sapa Akbar yang ditemuinya di lift.
"Biasa aja" Jawab Fadel sekenanya.
Bisa gawat kalo sampe Akbar tau tentang Laras. Gue bisa mati bediri di ledekin di depan bawahan gue lainnya.
Detik demi detik berlalu, jam demi jam terlewati.
AKhirnya tiba saatnya untuk pulang.
Tapi Fadel masih termenung di ruangannya sambil terus memandangi kamera digtal dan handphone nya yang hampir semuanya terisi dengan gambar gadis penari itu.
Pikirannya kembali melayang pada saat-saat dia melewati hari-hari di solo ditemani gadis itu, hingga tanpa sadar Akbar sudah membayanginya di belakang kursinya.
"EHem.. Poling IN LOp nih Bosss?"
Fadel tersentak. Hampir saja kamera mahalnya itu jatuh saking kagetnya.
"Astaghfirullah. Kamu ngapain disini? Kenapa belum pulang? SEjak kapan kamu disini?"
Yang ditanya hanya mesem-mesem saja dan mengambil kursi didepan meja bos nya.
"Gue bilang juga apa, Del!!DAh saat nya elu tuh membuka hati lagi untuk wanita lain. Dah lupain deh tuh si GIta. DIa udah bahagia ma suami n anaknya disana."
"Apaan sih loe?? LAras tuh cuma penari di hotel waktu itu. Karena tariannya bagus, makanya gue poto gitu!" Belanya.
"Ohh.. Jadi namanya LAras… Trus gimana, bos?? Dia ada respon positip ga ke elu? Dah samber ajaaa.. nanti keburu disamber oranggg" Goda AKbar.
"Gila loe! Loe tuh ngomong sembarangan, Gimanapun juga, gue tuh bos eluuuu!! SOpan dikit loooeeee!!! JAga Imageeeeeeeeeee!!!!" Fadel mulai kelabakan. AKbar hanya bisa tertawa.
"Katanya SLJJ mahallll… abis-abisin waktu, tenaga, pikiran dan segalanyaaaaaa.."
Akbar masih menggoda sambil menghabiskan gorengan yang tadi dibelinya.
"Yeee.. biar SLJJ juga yang penting setia, percaya dan perhatian tauuuu… Malahan lebih bagus SLJJ!! Ga terlalu banyak dosa nya. Ga pegang-pegangan atau apalah itu namanya. seperti yang biasa dilakukan orang pacaran jarak dekat ini!!!"
"Hahahahahahhaa… kalo mau yang lebih menjaga hati lagi… Lu nikahin tuh cewe !"
"Dah gue balik duluan, bossss…" Sela AKbar buru-buru pamit.
Fadel terdiam dan merenung..
Menikah..
Kenapa gue ga terpikirkan akan hal itu?
Tapi kenapa harus sama itu cewe?
Tapi apa gue jatuh cinte ma tu cewe?
Kok bisa?
Cepet banged?
Ah tau ahhhh.. nanti aja gue pikirin lagi.
Gue belum shalat magribbbbbbbbbbbbbb